Jumat, 19 Oktober 2012

Kasih Tau Saya Arti Sahabat


Malam ini saya diingatkan oleh teman saya “Aku udah menganggap kamu sahabat baik, jadi kalo ada apa apa bilang aja” tapi selama ini saya tidak mengetahui arti seorang sahabat. Apa itu sahabat? Apaka dia itu orang yang selalu bersama kita? Atau sahabat itu adalah orang yang selalu mendengar curhatan kita? Atau sahabat adalah orang yang telah bersama kita untuk waktu yang lama? Entahlah, saya masih belum mengerti apa arti sahabat. Tapi kata orang orang, sahabat itu adalah seseorang yang selalu ada disaat kita membutuhkan. Tapi apakah kita selalu ada saat sahabat kita membutuhkan kita. Saya memiliki banayak teman, saya selaalu mencoba untuk akrab dengan mereka. Tapi ketika saya sudah akrab dengan mereka apakah mereka akan berubah menjadi sahabat?
Saya hanya bisa prihatin ketika teman saya kehilang sahabatnya tapi jujur saya engga bisa merasakan kesedihan teman saya ini. Sepertinya dia begitu sedih sehingga hari harinya terasa hampa. Terlihat murung, jadi dia tidak terlihat seperti biasanya. Tapi tetap saja saya engga bisa merasakan kesedihannya. Betapa kejamnya saya ini.
                Tapi apa yang bisa membuatnya begitu sedih ketika ditinggal temannya? Apasih? Karna apa?
                 Saya coba browsing ke blog-blog yang lain dan saya memiliki berbagai definisi tentang sahabat.
 Sahabat sejati adalah sahabat yang tidak punya hati nurani untuk menusuk dari belakang atau menjadi duri dalam daging dan tidak memiliki rasa iri dan dengki. Saling memberi dan saling menerima tanpa ada embel-embel azas pemanfaatan.”
Sahabat sejati adalah ikatan pertemanan yang didasari oleh ikatan batin diantara keduanya. Persahabatan sejati sangat dipengaruhi oleh faktor ketulusan, kecintaan, kasih sayang, pengorbanan, pengertian dan saling memotivasi.”
“Sahabat adalah orang yang bisa diajak cerita tentang masalah yang sedang kita hadapi, sahabat adalah orang yang ada disaat kita butuhkan atau bahkan juga disaat kita tidak butuh pun sahabat selalu ada disamping kita untuk menemani kita.
                Itu adalah beberapa definisi tentang sahabat, dari beberapa blog yang saya kunjungi. Tapi apakah sahabat hanya seperti itu saja? Saya yakin arti sahabat tidak akan seperti itu. Menurut saya sahabat itu tidak se simple itu, sahabat itu adalah hal yang sangat rumit untuk dipahami. Dan kaalu di fikir-fikir sahabat itu sama halnya seperti cinta. Ataukah sahabat itu hanya omongan belaka yang tidak pernah ada? Hanya omong kosong? Tapi apakah sahabat itu pernah ada?

Minggu, 05 Agustus 2012

Mind Set


Anda pasti sering berfikir bahwa pelajaran Matematika atau Fisika itu sangat sulit, dan anda pernah tidak membayangkan dengan mengendarai  motor, begitu mudah kan? Sebenarnya semua yang saya sebutkan tadi susah, tidak ada yang mudah. Kalau mengendarai motor anda bisa pasti akan bisa selamanya dan materi tentang mengendarai motor itu hanya sedikit berbeda dengan materi dari Matematika ataupun Fisika. Ketika anda memahami materi tentang Matematika ataupun Fisika tetapi kalian tidak pernah melatihnya maka anda materi yang telah anda pahami pun akan anda lupakan.  Tetapi ketika anda menguasai teknik tentang mengendarai motor, anda akan beranggapan bahwa mengendarai motor tidak akan sulit lagi kan? Anda akan merasakan betapa mudahnya mempelajari sesuatu ketika kalian sudah paham dan mengerti. Dan juga ada beberapa factor yang mempengaruhi kalian. Yang pertama kalian harus menyukainya terlebih dahulu dan memiliki tekad yang kuat dalam diri anda dan juga kalian harus memiliki Mind Set yang positif. Sekarang apakah kalian mengetahui apa tu “Mind Set”,  nah dikesempatan kali ini saya akan membahas sedikit materi mengenai Mind Set.
Mind Set, adalah pola pikir awal kalian ketika kalian akan melaksanakan suatu aktifitas, tindakan, atau ketika anda hendak mempelajari sesuatu.  Mind Set ini termasuk ke dalam unconcious atau tindakan yang dilakukan di bawah alam sadar anda. Contohnya, anda pernah ga ketika anda akan belajar cara memprogam ulang computer anda, dan anda berkata “Ah gabisa, mending ke warnet memperbaikinya” nah dari kata “Ah gabisa” itu merupakan Mind Set negatif yang mempengaruhi kerja otak anda. Ketika anda berbicara “Ah gabisa” pada awal kalian menghadapi sesuatu maka otak anda otomatis disetel agar agar anda tidak akan pernah bisa untuk melakukan pemrograman ulang computer anda. Jadi bagaimanapun anda belajar tetapi mind set awal anda mengatakan tidak bisa, maka anda tidak akan bisa melakukannya atau sangat sulit melakukannya. Berbeda jika anda mengatakan “Aku bisa” maka otak anda akan otomatis diprogram untuk bisa melakukannya. Coba anda fikirkan kembali apa yang telah anda lakukan, dan ingat ingat apa yang pertama kali anda katakan, coba buktikan sendiri. Nah dari pembahasan singkat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa apapun yang anda katakan ketika hendak memulai sesuatu maka itu akan berpengaruh kepada pekerjaan kalian juga.
Jadi ketika kalian belajar tentang Matematika atau Fisika atau apapun, coba ingat ingat kembali apa yang pertama kali anda katakan, mungkin anda berkata tidak bisa jadi sampai saat ini anda tidak bisa memahami materi materi tersebut. Maka dari itu mari ubah Mind Set kalian dari sekarang.



Inspirasi ini diambil dari ucapan ayah saya.

Jumat, 03 Agustus 2012

Cerita Saya


Sekarang saya akan membagikan sebuah pengalaman berharga yang pernah saya alami, pengalaman ini juga bisa dijadikan bahan pembelajaran buat kalian semua, simak baik baik okay.

Pengalaman ini terjadi ketika saya masih kelas 3 Smp. Tepatnya hari selasa, dan itu sudah merupakan minggu tenang karena semua ujian telah berakhir so kami anak anak kelas 9 bebas melakukan apapun. Saat itu sekitar pukul sepuluh saya sedang bermain bola di sekolah tiba tiba teman saya Yogi menghampiri saya dan dia mengajak saya bermain ke daerah Braga bersama seorang teman saya lagi yaitu Rizki, sebenarnya saya agak ragu untuk pergi kesana, tetapi saya memaksakan diri karena saya ingin menambah pengalaman saya. Jadi kami pergi kesana bertiga. Kami pergi kesana itu berniat bermain denga teman Yogi anggap saja Vicki. Nah kami berjanji untuk bertemu di Braga Citiwalk. Kami pergi saat matahari tepat berada di atas kepala kami, awalnya sih cukup menyenangkan. Kami pergi kesana menggunakan angkot lalu melanjutkan perjalanannya dengan damri. Kami bertiga sangat menikmati perjalanan hingga tak terasa bahwa kami sudah hampir tiba di gedung merdeka, lalu kami turun di dekat gedung merdeka dan berjalan kaki menuju Braga. 

Kami tiba di daerah Braga lebih cepat dari dugaan, jadi kami terpaksa menunggu cukup lama karena Vicki belum tiba. Memang menunggu Vicki itu cukup membosankan jadi kami berjalan jalan di daerah Braga unutk waktu yang cukup lama. Kami sempat menunggu di lantai bawah, dan juga menunggu di lantai ketiga. Di lantai ketiga kami tidak begitu bosan karena disana ada wahana permainan jadi kami tidak terlalu bosan. Karna sudah cukup lama menunggu dan akhirnya bosan juga, kami berniat turun dan menunggu di depan Braga City Walk karena kami fikir suasana disana tidak akan begitu membosankan karena banyaknya orang dan kendaraan yang lalu lalang, banyak orang mengambil gambar, yang pasti suasananya tidak membosankan. Kami menunggu di sebelah restoran yang tepat berada di pinggir Braga City Walk. 

Saat kami sedang menunggu  kami melihat dua orang lelaki, mereka memakai motor mio berwarna biru. Lalu seorang diantara kami datang menghampiri kami. Tentu saja perasaan kami sudah mulai tidak enak dan kami pikir akan terjadi sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Akhirnya dia tepat berada di depan kami bertiga. Dia tidak begitu tinggi, kulitnya sawo matang, sepertinya dia bukan orang baik baik lalu dia bertanya kepada kami. 

“Eh jang tadi ada di bioskop?” ujar lelaki tersebut kepada kami

“Engga kang, abi mah ga dari bioskop” Kata saya

“Oh brarti tadi ada di lantai satu ya?” kata lelaki tadi

“Engga kang, kan kata abi dari tadi ada disini, emang kenapa nanya kaya gitu?” saya membalas lagi, (perasaan saya semakin tidak enak)

“Gini, adik saya tadi dipukuli di braga, sekarang dia dirumah saya,  nah saya sekarang lagi nyari orang yang mukulin adik saya. Nah kata adik saya yang gebukin adik saya tuh pakai baju warna merah terus pake kemeja kotak kotak, kalian kan?”

Dan kebetulan sekali saya dan yogi sedang memakai baju tersebut, saya mengenakan baju merah, dan yogi mengenakan kemeja kotak kotak

“Aduh maaf kang, jangan asal nuduh ke kita, kita kesini niat main bukan buat nyari masalah” kata Yogi

“Saya mah cuma nanya trus saya pengen mastiin aja, nah kalian (saya dan Yogi) sekarang ke rumah saya!” kata lelaki itu.

“Eh kang kan  kata saya kita ga punya salah! Lagian kita dari tadi disini, ga kedalem dalem segala, coba bawa aja adik situ kesini saya mau liat.” Kata saya.

“Heh jangan nyolot dong biasa aja, saya disini ngajak baik baik gamau pake fisik. Kalo kamu emang ga salah coba datang kerumah saya biar saya tunjukin sama adik saya, apakah kamu orangnya!” Ujar lelaki tersebut sambil mendorong badan saya dan nada suara yang agak tinggi.

Kami bertiga pun terdiam sejenak, kami saling menatap satu sama lain. Dan kami akhirnya mengambil keputusan untuk ikut dengan lelaki tersebut, sedangkan Rizki menunggu di Braga dengan lelaki yang lainnya, sebelum kami dibawa mereka, kami disuruh lelaki tersebut untuk menitipkan handphone dan dompet kami, kami pun menuruti permintaanya karena kami takut diarampok sesampai  di rumah lelaki tersebut. Akhirnya kami dibawa oleh lelaki itu ke sebuah tempat yang tak jauh dari Braga. 

Beberapa menit kemudian kami diberhentikan di sebuah gang, 

“Tunggu disini sebentar, saya mau ngomong dulu sama teman teman saya, takut takut kalau kalian dipukuli, bentar ya! Jangan kemana mana dulu” Kata lelaki tersebut

Kami pun menunggu di gang tersebut , sementara Rizki menunggu di Braga dengan teman dari lelaki tersebut. Kami menunggu di gang tersebut sambil berdebat. Saya memiliki perasaan yang tidak enak, sedangkan Yogi ingin menbuktikan kepada lelaki tersebut bahwa dia tidak bersalah dan tidak pernah memukuli adik dari lelaki tersebut. Kami menunggu disana cukup lama, sekitar 15 menit, dan rasa curiga pun mulai muncul. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendekati ke arah lelaki tersebut pergi, tapi Yogi sempat takut dan tidak akan mengikuti saya. Saya terus melangkah ke ujung gang yang ada di depan saya, lalu Yogi pun mengikuti saya. Setelah sampai di ujung gang, saya agak terheran kenapa jalan tersebut malah tembus ke jalan Braga. Akhirnya perasaan yang sudah saya duga benar. Lalu saya berlari sekencang kencangnya diikuti oleh Yogi dan bertujuan ke arah Braga. Sampai disana benar saja lelaki tersebut dan Rizki sudah menghilang!  Kami mencoba mencari ke dalam gedung Braga, ke lantai paling atas, tapi kami tidak menemukannya, dan akhirnya kami menemukan Vicki dengan teman temannya. Vicki sempat menanyakan apa yang terjadi pada kami, lalu kami ceritakan kepada dia apa yang sebenarnya terjadi. Dan dia ikut shock mendengar yang kami ceritakan. Selanjutnya lami bertiga melanjutkan pencarian ke sekitar Braga dan hasilnya nihil. 

Kami pun memutuskan untuk pergi ke kantor polisi, dan Vicki meminjamkan handphonenya karena merasa sangat bersalah. Setelah dipinjamkan handphone kami pun segera diantarkan ke kantor polisi terdekat oleh petugas keamanan Braga. Sesampai di kantor polisi kami ceritakan segalanya dari awal hingga akhir, tapi hasilnya tetapi nihil dan kami disuruh pulang begitu saja tanpa, kami menyesal karena tidak puas dengan perlakuan polisi disana. Saat saya sedang bingung harus kemana lagi, saya menelepon ayah saya untuk menceritakan kejadiannya dan meminta nasihat kepadanya. Dia kaget mendegar ceritaku dan menyuruh kami untuk tetap tenang dan dia akan berusaha mencari bantuan. Teleponpun kumatikan dan kami akan kembali ke Braga. Sesampai di Braga kami kembali menemui Vicki dan mengatakan bahwa hasil dari kantor polisi tidak ada hasilnya. Saya merasakan ada getaran dari handphone lagngsung saja ambil, dan saya lihat, ternyata itu adalah panggilan dari Pak Dede teman ayah saya, dan dia adalah seorang polisi di daerah majalaya. Dia menyarankan kita untuk pergi ke kantor polis yang ada di dekat BIP. Dan kami pun segera kesana dengan berjalan kaki. Kami cukup lelah karena telah seharian berjalan dan dikuras mental dan emosi. Kami pun sampai di kantor polisi tersebut dan menceritakan segalanya, kami cukup senang disana karena pelayanannya memuaskan tidak seperti yang kami datangi sebelumnya. 

Dengan keadaan cemas akan keselamatan teman kami yang diculik oleh lelaki yang tak dikenali itu, kami mencoba tetap tenang dan kami masih menyempatkan solat. Setelah menunggu agak lama kami diajak oleh salah seorang polisi tersebut untuk mencari teman kami menggunakan mobil. Kami sempat berkeliling selama hampir setengah jam dan kami tetap tidak menemukan teman kami itu, mungkin bila kita meneruskan pencarian sekarang teman saya tetap tidak akan ditemukan, maka kami kembali ke kantor polisi. Ketika dikantor polisi, sudah berdatangan tetangga tetangg saya, dan ayah saya pun sudah disana. Setelah menunggu berjam jam di kantor polisi kabar baik pun datang. Kabar tersebut mengabarkan bahwa teman kami telah pulang dengan selamat, katanya di diturunkan di suatu daerah dan sempat mengikuti arah angkot  pulang ke rumah nenenya. Setelah semuanya selesai kami semua pulang ke rumah masing masing.

Inilah cerita singkat dari pengalaman buruk yang sangat berharga ini. Kesimpulannya.
·        Jangan pernah percaya kepada orang asing, atau orang yang tidak terlalu akrab. Orang yang sudah akrab dengan kalian pun belum tentu dapat dipercaya.
·        Baca doalah sebelum pergi kemanapun agar kamu dilindungi oleh Allah
·        Bila ada hal hal yang mencurigakan lebih baik segera mengelak atau menjauh
·        Dan yang terakhir. Bila kamu ragu melakukan sesuatu, maka jangan dilakukan.

Trims.

*note. Cerita ini sudah diperhalus dan nama nama yang tertera di atas bukan nama sesunguhnya. Bila inign tahu lebih detail silahkan berbincang-bincang dengan adminya admin

Selasa, 31 Juli 2012

Tak Ada Kedua Kalinya

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Ini Saya

Akhirnya saya punya Blog juga, kita perkenalan dulu aja kayanya mah ya. Nah yang paling pertama saya bakalan ngenalin diri saya sendiri. Nah nama saya tuh Muhammad Abi Naufal Martawiguna, haha lumayan panjang sih namanya tapi menurut gue itu nama spesial. Dari nama itu orang orang bisa tau bahwa saya emang orang sunda, dan beragama islam. Sedangkan kata "Naufal" itu kata orang tua saya berarti tampan *tapi gatau sih* yang penting saya suka sama namanya. Dan yang terakhir "Martawiguna" nah kalo nama itu ga ada artinya itu tuh merupakan nama keluarga soalnya nama bapa saya juga ada martawigunanya. Haha emang sih aga geje gini bahas nama tapi ga papalah karna pepatah mengatakan "Tak kenal maka tak cinta *ehh" hahaha :D. Oh iya saya itu sekarang kelas 2 SHS, saya sekolah di sekitaran kab Bandung Timur, walaupun sekolah di kabupaten tapi dengan niat yang ikhlas dan sunguh-sungguh saya yakin bisa ngalahin sekolah sekolah lain *bener ga?*. Sekarang umur saya yaitu 16, baru aja kemaren ulang tahun tepatnya tanggal 16 July. Emh bahas apa lagi ya *buffering*. Hobby saya itu bernyanyi dan mendengarkan musik, bermain sepeda bmx, bermain gitar walau ga terlalu enak di denger, mainin komputer, ngutak ngatik komputer dan hape pastinya, dan sebagainya. Kalo pandandangan hidup saya tuh "bawa semuanya enjoy" saya suka aneh sama anak anak muda jaman sekarang *gatau dulu gimana*. Hidup ini tuh dikasih Allah itu sebentar engga lama tapi kenapa banyak anak muda yang menyia-nyiakannya coba? rugi kan?! Ketika seseorang sibuk memikirkan lawan jenisnya, sakit sakitan buat dia, terlalu sibuk bermain, ahh banyak lagi lah. Menurut saya sih ga usah segitunya coz emang dia siapa kamu? Emang sih saya juga kaya gitu, tapi setidaknya seimbang gitu antara hak dan kewajibannya jangan minta haknya terus kan bener ga? Ketika ada masalah kecil di besar besarkan apa banget coba? Kan dalam pelajaran PAI diajarkan bahwa "Mari kita berlomba lomba untuk berbuat kebaikan" nah coba deh terapin itu jangan nyari musuh doang. Haha udah ah ngocehnya, kalau mau ngobrol ngobrol bisa sharing di FB saya atau di twitter deh ;). Kayanya enak ya kalo kita bisa jadi Stand Up Komedian, *ah nyalonin ahh*. Udah segini dulu aja di post pertama dari saya *tarakdungces* haha moga engga bosen bacanya juga menambah insipartif bagi kalian, emang sih ini geje gitu tapi di post selanjutnya saya bakalan ngasih artikel yang bermanfaat deh tunggu sajah ya, kita mencari inspiratif baru. Trims.